Kamis, 14 Maret 2013

fenomena pete-pete dan parpol



Oleh: Hamdan eSA
(Pembina di “eSA” dan Mapalasta)

Harian Fajar Edisi 13 Maret 2013


 Pete-pete menunjuk pada kendaraan angkot atau mikrolet yang berfungsi sebagai angkutan umum kota, atau mungkin juga antar kota-kota kecil. Sebagai angkutan publik, pete-pete memiliki trayek khusus yang telah ditentukan. Penumpangnya, untuk mencapai tujuan tertentu, dapat merancang perjalanan sendiri. Ia dapat turun di tengah perjalanan dan naik ke pete-pete lain yang ia inginkan, yang penting siap membayar tarif yang ditentukan pak sopir.

Jauh di ruang publik lainnya, partai politik dalam sebuah mekanisme demokrasi menjadi faktor terpenting. Sebagai “kendaraan” demokrasi, parpol lebih awal secara internal harus dapat mempraktekkan cara-cara domokratis. Internalisasi nilai-nilai demokrasi adalah kebutuhan primer bagi kelembagaan palpol maupun personalnya. Nasib suatu negara bangsa terletak pada partai politik yang ada di dalamnya. Sedangkan nasib sebuah partai terletak pada kualitas kelembagaan parpol tersebut dan kualitas personalnya. Parpol hampir dapat di katakan sebagai satu-satunya solusi untuk membangun demokrasi. Namun di saat yang sama partai juga dapat menjadi masalah jika ia dibangun seadanya, terutama jika hanya dijalankan untuk memenuhi hasrat politik.

Jenis Parpol

Secara teoritis, parpol dapat diklasifikasi ke dalam beberapa jenis. Pertama, apa yang disebut sebagai Partai Proto. Jenis partai ini merupakan karakter dasar dari tipe awal parpol. Basis pendukungnya adalah kelas menengah ke atas. Bentuk organisasi dan ideologinya relatif sederhana. Partai proto adalah faksi yang dibentuk berdasarkan pengelompokan ideologi masyarakat.

Kedua,  yakni Partai Kader. Penekanan partai kader sesungguhnya adalah terletak pada penguatan yang cukup tinggi pada level pengurusnya, dan dalam hal peningkatan kapasitas perso­nalnya untuk kepentingan partai.

Ketiga,  yakni Partai Massa. Berkembangnya jenis ini ka­rena adanya perluasan hak pilih rakyat. Parpol ini di­hentuk di luar parlemen (ekstraparlemen). Orientasi parpol ini adalah kepada basis pendukung, yaitu buruh, petani dan massa lainnva. Tujuannva adalah untuk pendidikan politik dan pemenangan pemilu. Ideologi dan organisasi­nya rapi.

Keempat, yakni Partai Diktaktoral. Jenis  ini adalah merupakan subtipe partai massa. Ideologinya kaku dan radikal. Pimpinan tertinggi melakukan kontrol ketat. Rekrutmen anggotanya sangat ketat, di mana ang­gota parpol dituntut mengabdi secara total.

Kelima, yakni Partai Catch-All. Jenis partai ini merupakan gabungan antara partai kader dan massa. Mereka berusaha menampung kelompok sosial sebanyak-­banyaknya untuk menjadi anggotanya. Tujuannya meme­nangkan pemilu berkaitan dengan berkembangnya kelom­pok kepentingan dan penekan, dan ideologinya tidak ter­lalu kaku. Sebagian besar partai politik di Indonesia pemenang Pemilu pada era reformasi  adalah masuk dalam kategori jenis ini. Konsekuensinya adalah terabaikannya proses pendidikan politik.

Fenomena Pete-pete

Fenomena pete-pete (angkot) dan penumpangnya menjadi sangat menarik diperhatikan, karena memiliki karakter yang sangat mirip dengan karakter parpol di indonesia beserta politikus yang ada di dalamnya. Dan ini mungkin dapat menjadi jenis keenam dari lima jenis partai di atas. Parpol merupakan “kendaraan” demokrasi. Masalahnya, kendaraan ini dimanfaatkan sebagai apa?

Sejumlah parpol tampaknya memiliki kemiripan dekat dengan fenomena pete-pete. Pengkaderan tidak perlu, yang paling penting adalah kemampuan memikat massa agar dapat ikut menjadi penumpang. Parpol pete-pete membutuhkan banyak massa tanpa banyak embel kecuali duit dan jabatan. Penumpang berduit atau punya jabatan sangat dibutuhkan agar dapat menyuplai bahan bakar dan segala kebutuhan pete-pete. Parpol pete-pete juga sewaktu-waktu dapat mengganti drivernya dengan seorang dari mana saja yang dirasakan memiliki kemampuan daya pikat lebih dari sebelumnya. Jangan heran bila seseorang driver parpol pete-pete dengan sangat mudah berpindah-pindah dari pete-pete satu ke pete-pete lainnya laksana kutu loncat.

Parpol pete-pete tidak memerlukan mekanisme pengkaderan untuk mendidik dan membentuk kader. Proses ini cukup panjang dan membutuhkan cost tinggi. Cara yang lebih efisien adalah menggaet driver yang telah memiliki seabrek pengalaman, skill, reputasi dan citra. Tentunya sang driver juga tidak sembarang menerima tawaran, ia dapat menilai dan memilih pete-pete mana yang dapat ia jalankan dengan baik dan menguntungkan sampai ke tujuan. Pete-pete membutuhkan driver ulung dan populer untuk menaikkan citra kendaraan. Sebaliknya, driver membutuhkan kendaraan handal dan populer untuk mengangkat citra dan reputasi dirinya. Disinilah letak simbiosis mutualismenya.

Namun demikian, meski nampak sangat membutuhkan driver handal, tetapi sesungguhnya parpol pete-pete tidak punya kepentingan sama sekali dengan urusan, nasib serta kondisi driver, kecuali hal tersebut dapat mengangkat citra pete-pete. Kematian driver sekalipun dapat di eksploitasi untuk mengangkat citra. Driver mirip dengan itu, tidak punya kepentingan dengan masa depan partai pete-pete yang dikendarainya, ia hanya kendaraan sementara, dan sebentar juga akan pindah ke pete-pete lain.

Parpol pete-pete juga tidak mementingkan ideologi, agama, ataupun moral. tergantung musimnya saja. Jika para penumpang lagi ngidam ideologi, maka saat itu ideologi diperlukan, dieksplor dan dieksploitasi. Jika agama dan moral sedang trend, maka parpol harus memiliki komponen yang bisa membuatnya paling bermoral dan beragama. Ideologi, agama dan moral bila dieksplor dengan baik dapat menjadi jurus pikat yang sangat jitu. Tetapi sekali lagi yang terpenting adalah kalkulator untuk mengkalkulasi rumus-rumus kemengan dan rumus-rumus pendapatan kekayaan.

Akankah kita serahkan masa depan kita, masa depan negara dan bangsa, kepada parpol pete-pete? Dari sekarang kita harus memikirkan bersama bagaimana mengembalikan parpol pada fungsi-fungsi idealnya. Ongkos politik sudah begitu banyak dikeluarkan, tetapi belum juga memperlihatkan pengaruh dan perbaikan yang signifikan, bahkan sebaliknya, kemerosotan yang konyol. Parpol harusnya lebih mengembangkan perannya dalam memberi kontribusi terhadap tata kelola demokrasi yang ingin dibangun bersama. Masih banyak tugas yang lebih penting daripada sekedar sibuk musiman dalam mempersiapkan diri menghadapi suksesi. Misalnya dengan memaksimalkan penguatan dan pengembangan kelembagaan parpol, dan membangun relasi dengan masyarakat sipil dalam rangka membangun demokrasi sebagai nilai, bukan sekedar mekanisme.
 
Wallahu A’lam.

Makassar, 09 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar